Cukup sulit saya berusaha menstabilkan perasaan bahkan hingga detik saya menulis kata ini belum sepenuhnya perasaan ini membaik. Saya coba mengingat hal-hal apa saja yang telah diusahakan untuk mensukseskan ikhtiar ini, keinginan yang sangat untuk bisa berhasil untuk memperoleh hasil atas ikhtiar selama ini. Setiap kali berdo'a, saya meminta agar Allah memberikan yang terbaik bagi saya yang sedang berikhtiar memiliki pendamping sholehah untuk dapat bersama menjalin keluarga Rabbani. Dalam setiap do'a, saya selalu sisipkan kata-kata "yang terbaik." Saya ingin usaha ini adalah suatu ikhtiar untuk memperoleh hasil yang terbaik. Tapi terbaik menurut siapa? Kadang saya salah kaprah, meminta yang terbaik itu menurut versi saya bukan kebaikan versi Allah SWT. Suatu permintaan yang saya anggap baik tanpa pernah tahu hakikatnya jika hal tersebut dikabulkan oleh Allah. Saya teringat, bahwa suatu pengabulan do'a, bukan semata karena kemuliaan orang yang memohon. Allah mungkin akan mengabulkan hajat orang yang berdo'a, namun belum tentu dalam tercapainnya do'a tersebut adanya ridha Allah. Boleh jadi pengabulan do'a itu malah dapat memperjauh jarak antara si pendo'a dengan Allah. Ih... bergidik saya dibuatnya. Betapa sombongnya saya yang selalu memohon agar Allah memberikan yang terbaik untuk ikhtiar saya, tetapi ingkar dan merasa kecewa berat ketika do'a tersebut melenceng dari keinginan. Astaghfirullah.... Saya seolah lupa, bahwa tidak diijabahnya sebuah do'a oleh Allah SWT bukan berarti do'a tersebut tidak diridhai atau adanya kenistaan pada si peminta. Boleh jadi dengan penahanan do'a tersebut justru karena adanya kecintaan, kemuliaan dan rasa sayang Allah pada hambanya. Di mana Allah ingin melindungi hamba tersebut jatuh pada jurang kehinaan. Sungguh luar biasa kasih sayang Allah. Subhanallah, kenapa saya lupa akan hal ini? Di mana seorang hamba hanya bisa berikhtiar dan berdo'a, sedang hasil akhirnya diserahkan kepada Allah yang Maha mengetahui segala sesuatu. Karena apa yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik di mata Allah. "Yang penting tidak putus asa ikhtiar.... "Ketahuilah seandainya semua mahluk bersepakat untuk membantumu dengan apa yang tidak ditakdirkan Allah, mereka tidak akan membantumu. Atau bila mereka bersatu menghalangi engkau memperoleh apa yang sudah Allah takdirkan, mereka pun tidak akan mampu melakukannya. Ketahuilah, bersabar dalam musibah akan memberikan hasil yang positif dan kemenangan dicapai dengan kesabaran. Kesuksesan sering dilalui lewat cobaan yang berat dan kemudahan itu datang setelah kesulitan." (HR Ahmad, Hakim, Tirmidzi) Saya percaya, jalan ikhtiar yang telah saya lalui tidaklah sia-sia. Mudah-mudahan apa yang telah saya jalani serta kegagalannya dapat menambah ketangguhan saya dalam menghadapi cobaan-NYA. Menyadari bahwa diri ini lemah tanpa adanya Sang Penolong. Dapat menyikapi episode kegagalan dengan hati ikhlas serta ridha menerima kenyataan apapun yang telah digariskan oleh Allah SWT. Dengan cobaan-Nya ini dapat semakin mendekatkan diri saya kepada-Nya, semakin merindukan tiap detik-detik azan untuk dapat selalu mengadu kepada-Nya, semakin merindukan indahnya sepertiga malam untuk lebih merendahkan diri kepada-Nya, dan semakin merindukan untuk selalu melafazkan indahnya untaian Al-Quran. Saya yakin inilah jawaban dari permohonan saya agar diberikan yang terbaik oleh Allah SWT. Perencanaan Allah yang tentu tidak sama dengan perencanaan si pemohon do'a. Hanya perencanaan Allah sajalah yang terbaik. Wallahu`alam bisshowab