Ya Rabby,... ketika aku jatuh cinta lagi, ijinkan ia datang pada waktu yang tepat, dimana dengan cinta itu akan membuatku selalu mengingatMU, dan bukan melupakanMU
Ya Rabby,... Ketika aku jatuh cinta lagi, cintakan hamba pada seorang yang senantiasa mencintaiMU dan bisa membuatku semakin mencintaiMu
Ya Rabby,... Ketika aku jatuh cinta lagi, jagalah hati hamba, agar cinta itu tidak berbalik menjadi mata pisau tajam yang siap meporak-porandakan cintaku PadaMU
Ya Rabby,... ketrika aku jatuh cinta lagi, cintakan hamba pada seorang yang melabuhkan cintanya PadaMu agar bertambah kekuatanku untuk melabuhkan dan mencintaiMu
Ya Rabby,... ketika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seorang yang tertaut hatinya padaMu, agar tidak terjatuh dalam jurang cinta semu
Ya Rabby,... Ketika aku rindu, rindukanlah aku pada seorang yang merindui syahid di jalanMU
Ya Rabby,... Ketika Kau halalkan aku merindu kekasihMu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepadaMU.
Teruntuk para ikhwan, sang pemilik tulang rusuk yang hilang…
Aku tahu, saat ini adalah masamu untuk mencari dan berusaha untuk menemukan tulang rusukmu yang hilang. Kau begitu ingin dan bersemangat untuk mencari dan segera menemukannya. Sebab, tulang rusuk itu adalah sesuatu yang teramat berarti bagimu. Teramat penting bagi kehidupanmu. Dia adalah sesuatu yang dapat menentramkan hatimu, menenangkan jiwamu, dan membahagiakan hidupmu. Dia adalah teman sejati, yang kau ingin bersama-sama dengannya mengarungi hidup yang penuh dengan onak dan duri ini. Dia adalah sahabat, tempatmu mencurahkan keluh kesahmu, tempatmu berbagi rasa, dan tempatmu menyandarkan kepala dalam dekapan hangatnya. Dia adalah ibu kedua bagimu sekaligus ibu bagi anak-anakmu; mengurus semua keperluan kalian, mengatur dan memperindah rumah kalian, serta menghiasnya dengan ketaatan dan kepatuhan serta keikhlasan semata-mata untuk mencari ridhamu dan ridha Rabbnya. Dia adalah istri, separuh hatimu, separuh jiwamu, dan separuh nafasmu. Dia melayanimu, dia mematuhi dan mentaatimu, dia memberikan segenap cinta dan kasihnya yang suci untukmu. Di matanya, engkau adalah satu-satunya laki-laki tercinta. Dan ia siap untuk berkorban apa saja-selama itu tidak melanggar syariat-demi mempertahankanmu di sisinya. Dia adalah adik, teman bermainmu, tempatmu bercanda dan ia akan membuatmu selalu tertawa bahagia dengan kelucuan dan kepolosannya. Dia adalah hiburan bagimu di saat engkau merasa lelah dan suntuk. Ia akan membuatmu tersenyum, ketika engkau diliputi kesedihan dan duka. Kemanjaannya, kelucuannya, keluguannya…Kau pasti akan bahagia bersamanya… Aku tahu…aku sangat tahu…Engkau pasti merindukan dan memimpikan belaian kasihnya, suara lembutnya yang manja, serta keluhuran budinya yang mempesonamu… Aku tahu, kau pasti akan berusaha untuk mengejar dan mendapatkannya. Maka inilah wasiat dan nasihatku kepadamu, wahai para pria yang ingin segera menyempurnakan separuh diinnya…. Bertaqwalah kepada Allah, dan takutlah akan adzab-Nya yang pedih, menjauhlah dari segala sesuatu yang dibenci oleh-Nya. Sesungguhnya, jika engkau adalah seorang laki-laki yang baik dan mencintai kebaikan, tunaikanlah hak saudaramu dan berlakulah yang adil. Sesungguhnya pernikahan tak hanya sebatas pada urusan tempat tidur (maaf, pen)! Pernikahan adalah sebuah perkara yang teramat sulit dan membutuhkan komitmen tinggi sebab konsekuensi yang harus dihadapi sangat banyak dan berat. Jangan pernah berandai-andai bahwa pernikahan segalanya berisi sesuatu yang indah. Tidak! Bukanlah hakmu untuk berangan-angan tinggi seperti itu! Untuk melangkah ke arah mahligai itu, engkau harus benar-benar mempersiapkannya dengan baik dari dalam dirimu. Tanyakan pada hatimu sendiri; sudah mantapkah diinmu? Dan apakah engkau telah menjalankan syariat dengan baik dan sesempurna mungkin? Apakah engkau masih sering dan belum dapat meminimalisir perbuatan maksiat dan bid’ah? Apakah engkau sudah menjalankan konsekuensi apa yang telah kau ikrarkan, yakni berpegangteguh kepada al-qur’an dan sunnah, seperti nisbatmu pada ahlussunnah waljama’ah? Bagaimana dengan kematangan emosimu? Apakah engkau yakin dengan kedewasaan yang ada pada dirimu? Sudah bisakah dirimu menghadapi masalah yang datang padamu dengan kepala dingin, tenang, dan bijaksana? Apakah engkau telah bisa meredam segala emosi yang membuncah di dadamu? Apakah engkau bisa untuk tetap berdiri tegak meski badai menerpamu? Bisakah engkau berkomitmen untuk mengembalikan segala perkara yang ada kepada al-qur’an dan sunnah, dan bukan dengan emosi yang meledak-ledak? Bagaimana dengan kuantitas dan kualitas ilmumu? Sudah cukupkah ilmu itu sebagai pondasi yang kokoh bagi rumah tanggamu? Cukupkah ilmu itu untuk mendidik istri dan anak-anakmu? Sudah sanggupkah engkau untuk menjadi qowwam yang baik, pemimpin yang baik bagi istri dan anak-anakmu? Sudah mampukah dirimu untuk memberikan penghidupan yang layak untuk keluargamu? Renungkan dan tanyakanlah pada hatimu, wahai saudaraku… Aku tahu, sebagian dari kalian mungkin akan ada yang memprotes. Tidak ada orang yang sempurna. Pernikahan ada untuk saling melengkapi satu sama lain. Ya…ya…kuterima protesmu. Aku tahu, no one is perfect. Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Dan kita hidup di dunia ini adalah untuk menyempurnakan diri. I see…Tapi, kenapa kita tidak mengambil kemungkinan terburuk saja untuk menghadapinya? Dengan mengambil kemungkinan-kemungkinan terburuk itu, kita akan bisa merancang solusi dan pemecahan masalah dengan baik. Kita akan menjadi bijaksana dengan itu. Dan jika ada peluang untuk perfect, why not? Ikhwaniy fiddiin… Demi Allah, jika engkau adalah seorang lelaki yang baik dan mencintai kebaikan, maka tidaklah ada sesuatu yang dapat merintangimu untuk berlaku adil dan menjauh dari kezhaliman… Jagalah izzahmu, sebab seorang lelaki yang baik adalah seorang laki-laki yang memiliki izzah. Jangan sampai engkau melanggar syariat hanya demi mencapai tujuanmu. Dalam masa ta’arufmu, gunakanlah wasilah, seorang yang tsiqah dan dapat engkau percayakan padanya urusanmu. Jagalah hubunganmu dengan wanita yang ingin kau pilih. Jangan sampai kalian terjatuh dalam lubang khalwat dan maksiat. Jika engkau telah merasa mantap dengan wanita pilihanmu, engkau telah beristikharah, dan Allah menjawab doamu dengan jawaban yang positif, maka segera datangi wali wanita pilihanmu. Jangan datangi anaknya, datangi ayahnya! Sebab, seorang anak gadis adalah milik ayahnya. Jika engkau telah menghadap pada calon mertuamu, tunjukkanlah pada beliau, bahwa engkau adalah seorang pemuda shalih yang tak pantas untuk ditolak. Tunjukkan dengan cara yang ma’ruf, bahwa engkau adalah seorang pemuda dengan mental baja, keberanian, ketegaran, kesabaran, serta memiliki kematangan ilmu. Sesungguhnya seorang laki-laki yang memiliki mental baja, keberanian, ketegaran, kesabaran dan kematangan ilmu adalah laki-laki yang pantas untuk dipilih dan dijadikan pemimpin bagi wanita. Sebab dengan itu semua, dia akan bisa menghadapi pahit dan sakitnya dunia. Tapi, jangan pernah lupakan, bahwa sikap dan akhlaq yang baik, tutur kata yang menawan, adalah kunci suksesmu untuk memikat hati calon mertua. Jangan sampai engkau tergelincir pada pengguruan terhadap orang tua. Sebab, tak ada orang tua manapun yang suka digurui oleh anak kecil!! Jika engkau seorang laki-laki yang baik, tentunya engkau akan menunjukkan akhlak dan kredibilitasmu sebagai seorang yang benar-benar baik. Seorang yang paham diin serta matang emosi. Persiapkan mentalmu untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan apapun. Jika pinanganmu diterima, maka bersyukurlah. Dan tunaikan kewajibanmu untuk segera menikah. Serta jangan lupakan bahwa setelah menikah engkau memiliki konsekuensi yang harus kau jalani! Tapi, jika pinanganmu ditolak, maka bersabarlah…dan jangan lepaskan rasa syukur itu dari hatimu. Seharusnya, engkau semakin bersyukur, sebab Allah masih mencintaimu dan menginginkan seorang yang lebih baik darinya untukmu. Jika engkau ditolak, berlapangdadalah. Jangan lepaskan senyum dari wajahmu. Dan ingat, tindakan mengejar-ngejar seorang wanita itu sangat patut untuk dipertanyakan. Kenapa? Sebab, kesan yang akan timbul semuanya akan mengarah kepada kebutuhan di atas tempat tidur, bukan kebutuhan untuk bersama-sama berjuang menghadapi hidup dalam bahtera pernikahan! jagalah izzahmu, wahai para pria!! Bersikaplah yang tenang, cool…sebab, disanalah kuncinya… Aku yakin, jika engkau memang seorang lelaki yang shalih dan baik…tiada seorang pun yang akan menolakmu sebagai pengganti wali bagi anak-anak gadisnya… Percayalah, sebab aku mengatakannya sebagai seorang wanita. Yang pernah menghadapi susahnya dikhitbah seorang pria… Kudoakan, semoga Allah mempermudah jalanmu dalam menemukan tulang rusukmu yang hilang… Dan setelah tiba masamu untuk bersanding dengan wanita pilihanmu, dan engkau telah menemukan tulang rusukmu yang hilang…jangan pernah lupakan, sekali lagi, jangan pernah lupakan bahwa kau punya kewajiban yang harus kau tunaikan! Wanita shalihah adalah bunga. Sekuntum melati yang harum dan indah. Jika kau telah memetiknya, jangan pernah kau sia-siakan dia. Jaga dia baik-baik dalam taman hatimu, rawat dia, dan pelihara dia dengan baik. Tentu ia akan membutuhkan sentuhan tanganmu. Siangi benalu-benalu liar yang tumbuh di sekitarnya. Jangan sampai ia layu dan mati karena kelalaianmu. Berbuat adillah, wahai para calon Abu Abdillah…!!!! Sesungguhnya sepah memang pantas dibuang setelah habis manisnya. Tapi, sekuntum melati, tak pantas kau siakan setelah kau berusaha untuk memetiknya dari dataran tinggi yang terjal dan penuh dengan rintangan! Sesungguhnya, seorang wanita baik-baik jika telah memilih seorang laki-laki dalam hidupnya, maka ia akan berusaha untuk mempertahankan laki-laki itu di sisinya, dengan segenap cinta dan hatinya…
Apa itu cinta....
Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa
mendo'akannya walaupun
dia tidak berada disisi kita.
Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan,
dua tangan untuk memegang,
dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk
melihat. Tetapi mengapa
Tuhan
hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ?
Karena Tuhan telah
memberikan sekeping lagi hati pada seseorang
untuk kita mencarinya. Itulah
Cinta ...
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika
kamu masih mau mencoba.
Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa
sanggup. Jangan sesekali
mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika
kamu masih tidak dapat
melupakannya.
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai
harapan, walaupun mereka
telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih
percaya, walaupun mereka telah
dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin
mencintai, walaupun mereka
telah
disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang
mempunyai keberanian dan
keyakinan untuk membangunkan kembali
kepercayaan.
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang
tersayang sehingga dia
meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa
catatkan kata-kata cinta
itu
pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata
cinta yang tersimpan
dibenakmu
itu sekarang selagi ada hayatnya.
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan
bercinta dengan orang yang
salah
sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita
harus mengerti bagaimana
berterimakasih atas karunia tersebut.
Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu
beralih emas, keruh menjadi
bening, sakit menjadi sembuh,
penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan
kemarahan menjadi
rahmat.
Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang
tidak mencintaimu, tetapi
lebih
menyakitkan adalah
mencintai seseorang dan kamu tidak pernah
memiliki keberanian untuk
menyatakan cintamu kepadanya.
Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati
seorang gadis,
ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar
merah. Kadangkala kamu
mencium harum mawar tersebut, tetapi kadangkala
kamu terasa bisa duri
mawar
itu menusuk jari.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika
kamu bertemu seseorang yang
sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan
bahwa pada akhirnya menjadi
tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang
mencintai kamu sepenuh hati,
sehingga kamu kehilangannya.
Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena
perginya tanpa berkata lagi.
Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia
sekarang dan bukan siapa dia
sebelumnya.
Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu
benar-benar
mencintainya
setulus hati.
Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat
membuat orang sehat
menjadi
sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal
menjadi gila, orang kaya
menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya
itu disambut oleh para
pecinta PALSU.
Kemungkinan apa yang kamu sayangi atau cintai
tersimpan keburukan
didalamnya
dan kemungkinan
apa yang kamu benci tersimpan kebaikan
didalamnya.
Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada
perempuan artinya alam,
cinta kepada diri artinya bijaksana,
cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada
Tuhan artinya Takwa.
Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta
kedalam laut, pasti ia akan
membawa seekor ikan.
Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta
ke dalam gudang roti,
pasti
ia akan mati kelaparan.
Seandainya kamu dapat berbicara dalam semua
bahasa manusia dan alam,
tetapi
tidak mempunyai
perasaan cinta dan kasih, dirimu tak ubah seperti
gong yang bergaung atau
sekedar canang yang gemericing.
Cinta adalah keabadian ... dan kenangan adalah hal
terindah yang pernah
dimiliki.
Siapapun pandai menghayati cinta, tapi tak
seorangpun pandai menilai cinta
karena cinta bukanlah suatu
objek yang bisa dilihat oleh kasat mata, sebaliknya
cinta hanya dapat
dirasakan melalui hati dan perasaan.
Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan
batu, membangkitkan yang mati
dan
meniupkan kehidupan padanya serta membuat
budak menjadi pemimpin. Inilah
dahsyatnya cinta.
Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang
kamu cintai menjadi dirinya
sendiri dan tidak merubahnya menjadi
gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu
hanya mencintai pantulan
diri
sendiri yang kamu temukan didalam dirinya.
Kamu tidak akan pernah tahu bila kamu akan jatuh
cinta. Namun apabila
sampai
saatnya itu,
raihlah dengan kedua tanganmu dan jangan
biarkan dia pergi dengan sejuta
rasa tanda tanya dihatinya.
Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan
dari mulut kemulut tetapi
cinta adalah
anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia
dapat menilai kesuciannya.
Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga
memang mudah. Tapi untuk
dicintai
oleh orang yang kita cintai itulah yang sukar
diperoleh.
Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk
mengecewakan, lebih baik cinta itu
tak pernah hadir.
Memilih untuk bahagia atau untuk sengsara. Memilih untuk dipulihkan atau untuk menyimpan kepahitan. Memilih untuk mengampuni atau untuk mendendam.
Hidup adalah masalah pilihan. Kebahagiaan semu bisa anda dapatkan, yang sejati tak jauh dari jangkauan. Cinta kasih juga bisa anda miliki, namun dendam dan amarah juga bisa anda alami.
Persahabatan nan indah bukan impian, pengkhianatan dan kepahitan mungkin anda dapati.
Hidup adalah masalah pilihan. Mengenai bagaimana anda menjalani hidup. Mengenai bagaimana anda menghabiskan seluruh waktu. Mengenai bagaimana anda mencapai impian. Dan mengenai bagaimana anda memandang kehidupan.
Ada orang yang menganggap kehidupan sebagai angin yang berhembus. Banyak yang datang dan yang pergi. Tak dapat ditebak, dan tak dapat diselami.
Ada pula yang menganggap kehidupan sebagai medan peperangan. Dimana ia harus berjuang tanpa henti. Tanpa kedamaian di hati.
Sementara yang lain menganggap kehidupan sebagai kutuk dari Yang Mahakuasa. Hidup tak lagi berarti bagi dirinya. Ratap tak pernah jauh dari mulutnya. Air mata mengalir siang dan malam, sebab hanyalah duka nestapa yang ada.
Namun...
Orang yang berbahagia menganggap kehidupan sebagai suatu emas yang mulia. Harta nan sangat berharga. Anugrah Ilahi yang tak tertandingi.
Dijalaninya hidup, dengan asa dan impian. Berjalan dalam jalan Sang Pencipta. Berserah sepenuhnya. Melangkah setapak demi setapak. Sampai didapatinya mahkota kemuliannya.
Hidup adalah masalah pilihan. Yang manakah yang anda pilih? Tanyalah pada diri sendiri.
INGATI bila sunyi, RINDUI bila jauh, PAHAMI bila keliru, NASEHATI bila lalai, dan MAAFKAN bila terluka.Alangkah indahnya UKHUWAH bila segalanya karena Allah
Inilah fakta tentang nikmat yang dikaruniakan Allah SWT:
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"”. (QS-14:7)
"Menambah" berarti memberi sesuatu yang baru kepada sesuatu yang lain yang serupa dan sudah lebih dahulu ada.
Bersyukur = Nikmat + Nikmat
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS-14:34)
Subhanallah! Ilmu matematika pun tidak bisa menghitungnya!
Dan jika manusia tidak bersyukur, nikmat itu tidak hilang karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang:
Bersyukur = Nikmat + Nikmat
0 = 1 + 0 ?
Subhanallah! Bahkan ilmu matematika sekalipun memang tidak bisa menghitungnya!
Seseorang yang memiliki pengetahuan matematika akan mengatakan bahwa persamaan di atas adalah salah. Semestinya, jika kita menambahkan "bersyukur" di sisi kiri, maka akan ada "bersyukur" lain yang juga ditambahkan di sisi kanan. Itu benar secara matematis, tapi begitulah manusia, manusia dengan matematikanya:
"Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)"
... jika manusia "bersyukur", niscaya "nikmat"-lah yang akan bertambah. Itulah yang sesungguhnya.
Semilir angin berhembus lembut menabuh daun, mengiringi ranting kecil pepohonan yang menari meliuk-liuk. Di langit, sinar mentari menelusup dari balik awan yang bergelayut. Menyapa ramah, kemudian mendekap hangat penghuninya.
Musim semi memang telah tiba. Tsukushi dan sumire juga tampak bermunculan di sela rerumputan. Kembali, ketakjuban bagi jiwa telah dibentangkan bahwa alam semesta turut tunduk dan patuh pada peran dalam setiap lakonNya. Di permukaan tanah, beragam warna bunga liar lain berpadu menghamparkan permadani indah. Sejuk mata memandang, jiwa seakan tak lagi dahaga.
Duhai...
Lihatlah pula sakura yang merekah di mana-mana. Kelopaknya berwarna putih, sedikit dihiasi semburat merah muda. Setiap tangkai itu sarat dipenuhi kuntum bunga hingga tampak berjuntaian ingin mencumbu tanah. Ketika angin menggoda, ia pun menggeliat manja.
Sakura di musim semi memang selalu menebar pesona. Kehadirannya tak pernah lupa dinantikan jutaan manusia di negerinya. Seperti biasa mereka duduk berkelompok di bawah pohon seraya menikmati keindahannya, bahkan tak peduli waktu siang atau malam. Tak jarang pula banyak yang bernyanyi-nyanyi atau sekedar mengabadikan kecantikannya. Memang sebuah fitrah bila manusia menyukai segala yang indah. Rasa ini akan membuahi putik-putik kasih, kemudian merekah menjadi bunga cinta yang bersemi di hati.
Indah...
Semua begitu indah mempesona. Sebuah kreasi di alam semesta yang menakjubkan dari Sang Pemilik Keindahan.
Namun, walaupun bunga sakura indah menawan, usianya tak pernah panjang. Satu persatu kelopaknya akan jatuh berguguran. Hanya berkisar selama dua pekan, punah lah semua. Pohonnya akan penuh daun saat musim panas, kemudian rontok ketika musim gugur menjelang. Sepanjang musim dingin, hanya dahan dan rantingnya yang tersisa. Sakura akan mekar ketika musim semi kembali tiba.
Hmm...
Tidakkah bunga sakura yang merekah sebenarnya sebuah tausyiah bagi hati ini. Meski usianya begitu singkat, tak pernah menghalanginya untuk menebarkan keindahan yang dimiliki. Umpama sepasang kekasih yang telah menjalin ikatan suci, persembahan terbaik dan terindah selama hidup di muka bumi hanya tersaji untuk yang dicintai.
Bagai sakura yang telah menyandang keindahan selama mekar kuntum bunganya, bukankah seyogyanya juga manusia mesti memberikan yang terbaik sepanjang hidupnya. Tak henti menebarkan rasa cinta dan kasih sayang dalam segala akhlaq serta tingkah laku, hingga kematian itu nanti menghampiri kita. Karena sebagai insan kita tak pernah tahu hingga kapan umur ini diamanahkan.
Jikalau cinta bagi sakura adalah mekar mempesona ketika musim semi tiba, maka cinta bagi seorang hambaNya adalah senantiasa merundukkan hati dan raga. Pasrah, seraya meratakan kening pada hamparan sajadah. Meneteskan air mata kerinduan serta tak pernah lelah merengkuh dari Sang Pemiliknya.
Wallahu a'lamu bish-shawaab.
taken from email Artaqiem Daydy.S.Si jakarta Selatan
Seorang gadis mengadu pada ibunya, berkeluh kesah tentang kehidupannya yang dirasa amat berat. Gadis itu tidak tahu bagaimana dia akan melalui semua itu dan merasa ingin menyerah saja. Dia merasa lelah berjuang dan menderita dalam kehidupan ini. Jika satu masalah teratasi, akan timbul masalah baru.
Ibunya mengajak putrinya menuju dapur. Diisinya 3 buah panci dengan air dan direbusnya air itu dengan api yang besar. Begitu semua air mendidih, dia masukkan wortel pada panci pertama, telur pada panci ke dua, dan butiran kopi di panci terakhir. Mereka menunggu sampai ketiga air di panci kembali mendidih.
Dalam 20 menit kompor-kompor dimatikan oleh sang ibu. Wortel dikeluarkan dan diletakkannya di sebuah piring. Begitu juga dengan telur dan kopi diletakkan dalam piring dan gelas berbeda. Sang ibu memandang putrinya sambil berkata :” Katakan apa yang kamu lihat.” Putrinya menjawab : “ Wortel, telur dan kopi.”
Ibunya meminta putrinya agar mendekat dan merasakan wortel itu. “ Wortel itu menjadi lembek.” Ibunya kemudian meminta putrinya untuk memecahkan telur yang telah matang itu. Setelah mengupas kulitnya, dia sadar
bahwa isi telur itu telah mengeras karena direbus. Akhirnya sang ibu meminta putrinya untuk meminum kopi yang telah matang. Putrinya tersenyum merasakan keharuman kopinya. "Apa arti semua ini, ibu ?” tanya putrinya. Ibunya menjelaskan bahwa setiap benda-benda itu telah melewati “Kemalangan” yang sama, yaitu direbus di dalam air mendidih. Namun tiap benda punya reaksi berbeda.
Wortel itu sebelumnya kuat, keras dan “tidak berperasaan.” Namun setelah direbus dia menjadi lunak dan lemah. Telur itu sebelumnya rentan, mudah pecah. Punya dinding tipis untuk melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah direbus, cairan di dalamnya menjadi keras. Sedang butiran kopi adalah fenomena unik, ia menjadi air setelah direbus.
" Termasuk yang mana kamu, anakku ?” kata ibu pada putrinya. " Jika kemalangan mengetuk pintumu, bagaimana kamu meresponnya ? Apakah kamu seperti wortel, sebutir telur atau biji kopi ?”
Camkan Hal ini :
Termasuk yang mana aku ini ? Apakah seperti wortel yang terlihat keras namun ketika dihadang masalah dan kemalangan aku menjadi lemah dan kehilangan kekuatanku ?
Apakah hatiku rentan seperti isi telur, namun ketika “di didihkan” oleh kematian, perpisahan, masalah keuangan atau ujian-ujian lainnya menjadikan hatiku kuat ? Apakah dinding luarku masih terlihat sama namun kini didalam aku menjadi seorang yang gigih dan berjiwa keras ?
Atau aku mirip dengan biji kopi ? Biji kopi sebenarnya mengubah air panas disekitarnya, yaitu keadaan yang membawanya dalam kepedihan. Ketika air mulai mendidih, maka dia mengeluarkan aroma dan rasa kopi yang nikmat.
Bila keadaan menjadi kian memburuk, mampukah kalian mengubah situasi di sekitar menjadi suatu kebaikan ? Ketika hari kian gelap dan ujian semakin meningkat, apakah kalian mengangkat diri sendiri ke tingkatan yang lain? Bagaimana kalian menangani masalah-masalah hidup yang datang silih berganti ? Apakah kalian mirip
sebuah wortel, sebutir telur atau biji kopi ?
Semoga kalian mempunyai cukup bekal kebahagiaan untuk membuat hidup terasa indah. Cukup ujian agar membuat kalian kuat, cukup kesusahan agar kalian lebih manusiawi, dan cukup harapan untuk membuat kalian mampu bertahan hidup.
Ketika dilahirkan, bayi menangis disaat semua orang tersenyum menyambut kehadirannya. Menangkan hidup ini agar diakhir perjalanan nanti kita bisa tersenyum ketika semua orang disekitar menangis.
Dunia ini memang panggung sandiwara, kita dan semua yang kita lihat hanyalah ilusi yang penuh dengan kiasan-kiasan. Kita bukan siapa-siapa, kita bukanlah seperti yang kita sangka. Kita hanyalah bayangan-bayangan, pujilah Dia Yang mampu membuat bayangan-bayangan bisa mendengar, melihat, merasa, berbicara, dan berbuat apa saja. Bukalah hati, mata dan pikiranmu semasa di dunia, karena siapa yang buta hatinya di dunia, di akhirat nanti akan semakin dibuat buta oleh Tuhan-nya…..Subhanallah ~
taken from email, sender Artaqiem Daydy.S.Si Jakarta Selatan