Selasa, Juli 25, 2006
sebuah pengakuan dan kejujuran....
Cukup sulit saya berusaha menstabilkan perasaan bahkan hingga detik saya menulis kata ini belum sepenuhnya perasaan ini membaik. Saya coba mengingat hal-hal apa saja yang telah diusahakan untuk mensukseskan ikhtiar ini, keinginan yang sangat untuk bisa berhasil untuk memperoleh hasil atas ikhtiar selama ini.
Setiap kali berdo'a, saya meminta agar Allah memberikan yang terbaik bagi saya yang sedang berikhtiar memiliki pendamping sholehah untuk dapat bersama menjalin keluarga Rabbani.
Dalam setiap do'a, saya selalu sisipkan kata-kata "yang terbaik." Saya ingin usaha ini adalah suatu ikhtiar untuk memperoleh hasil yang terbaik. Tapi terbaik menurut siapa? Kadang saya salah kaprah, meminta yang terbaik itu menurut versi saya bukan kebaikan versi Allah SWT. Suatu permintaan yang saya anggap baik tanpa pernah tahu hakikatnya jika hal tersebut dikabulkan oleh Allah.
Saya teringat, bahwa suatu pengabulan do'a, bukan semata karena kemuliaan orang yang memohon. Allah mungkin akan mengabulkan hajat orang yang berdo'a, namun belum tentu dalam tercapainnya do'a tersebut adanya ridha Allah. Boleh jadi pengabulan do'a itu malah dapat memperjauh jarak antara si pendo'a dengan Allah. Ih... bergidik saya dibuatnya. Betapa sombongnya saya yang selalu memohon agar Allah memberikan yang terbaik untuk ikhtiar saya, tetapi ingkar dan merasa kecewa berat ketika do'a tersebut melenceng dari keinginan. Astaghfirullah....
Saya seolah lupa, bahwa tidak diijabahnya sebuah do'a oleh Allah SWT bukan berarti do'a tersebut tidak diridhai atau adanya kenistaan pada si peminta. Boleh jadi dengan penahanan do'a tersebut justru karena adanya kecintaan, kemuliaan dan rasa sayang Allah pada hambanya. Di mana Allah ingin melindungi hamba tersebut jatuh pada jurang kehinaan. Sungguh luar biasa kasih sayang Allah. Subhanallah, kenapa saya lupa akan hal ini? Di mana seorang hamba hanya bisa berikhtiar dan berdo'a, sedang hasil akhirnya diserahkan kepada Allah yang Maha mengetahui segala sesuatu. Karena apa yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik di mata Allah. "Yang penting tidak putus asa ikhtiar....
"Ketahuilah seandainya semua mahluk bersepakat untuk membantumu dengan apa yang tidak ditakdirkan Allah, mereka tidak akan membantumu. Atau bila mereka bersatu menghalangi engkau memperoleh apa yang sudah Allah takdirkan, mereka pun tidak akan mampu melakukannya. Ketahuilah, bersabar dalam musibah akan memberikan hasil yang positif dan kemenangan dicapai dengan kesabaran. Kesuksesan sering dilalui lewat cobaan yang berat dan kemudahan itu datang setelah kesulitan." (HR Ahmad, Hakim, Tirmidzi)
Saya percaya, jalan ikhtiar yang telah saya lalui tidaklah sia-sia. Mudah-mudahan apa yang telah saya jalani serta kegagalannya dapat menambah ketangguhan saya dalam menghadapi cobaan-NYA. Menyadari bahwa diri ini lemah tanpa adanya Sang Penolong. Dapat menyikapi episode kegagalan dengan hati ikhlas serta ridha menerima kenyataan apapun yang telah digariskan oleh Allah SWT.
Dengan cobaan-Nya ini dapat semakin mendekatkan diri saya kepada-Nya, semakin merindukan tiap detik-detik azan untuk dapat selalu mengadu kepada-Nya, semakin merindukan indahnya sepertiga malam untuk lebih merendahkan diri kepada-Nya, dan semakin merindukan untuk selalu melafazkan indahnya untaian Al-Quran.
Saya yakin inilah jawaban dari permohonan saya agar diberikan yang terbaik oleh Allah SWT. Perencanaan Allah yang tentu tidak sama dengan perencanaan si pemohon do'a. Hanya perencanaan Allah sajalah yang terbaik.
Wallahu`alam bisshowab
posted by Bunda HaNa @ 7/25/2006 03:30:00 PM   0 comments
BERATNYA SEBUAH KEHILANGAN
Di sudut pasar kota Madinah pernah ada seorang pengemis Yahudi. Ia buta. Ia hanya menggantungkan hidupnya pada orang yang mau memberinya makan. Dan setiap kali ada seseorang yang datang mendekatinya, ia selalu berkata, “Wahai saudaraku. Jangan dekati Muhammad! Dia itu orang gila, pembohong. Tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya, kalian pasti akan terkena pengaruhnya!”
Namun, setiap hari justru Rasulullah SAW mendatanginya. Beliau membawa makanan dengan tangannya sendiri. Dan lebih dari itu, tanpa berkata sepatah pun, beliau menyuapi pengemis Yahudi buta itu dengan makanan yang beliau bawa. Beliau pun tak luput mendapatkan pesan yang sama dari pengemis itu sebagaimana disampaikan kepada sekalian orang.
Hal demikian dilakukan Rasulullah hingga menjelang beliau wafat. Dan tentu saja, ketika beliau tiada, maka tidak ada lagi orang yang datang kepada pengemis Yahudi itu dan menyuapinya makanan sebagaimana biasanya.
Suatu hari, Abu Bakar ra datang kepada 'Aisyah ra., anaknya yang isteri tercinta Rasulullah. Ia bertanya, “Wahai anakku. Adakah sunnah kekasihku Muhammad yang belum aku kerjakan?”
“Wahai Ayah. Engkau adalah ahli sunnah Rasulullah,” jawab 'Aisyah. “Hampir tak ada sunnah Rasulullah yang belum engkau kerjakan kecuali satu hal saja.”
“Sunnah apakah itu, anakku?” tanya Abu Bakar penasaran.
“Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu berkunjung ke sudut pasar Madinah,” terang 'Aisyah. “Beliau membawakan makanan untuk menyuapi seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana.”
Keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke sudut pasar Madinah. Ia membawa makanan di tangan. Ketika ia tanpa berkata sepatah pun mulai menyuapinya, Yahudi buta itu pun berteriak marah.
“Siapakah kau?” tanyanya ketus.
“Aku orang yang biasa menyuapimu,” jawab Abu Bakar.
“Bukan!” sergah si Yahudi. “Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku.”
Abu Bakar termangu.
“Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan mulut ini mengunyah,” lanjutnya pada Abu Bakar. “Orang yang biasa mendatangiku selalu menyuapiku dengan lembut.”
Abu Bakar tak kuasa menahan bulir air di matanya. Ia pun sesenggukan. “Ya, kisanak. Memang aku bukanlah orang yang biasa datang kepadamu. Aku hanyalah salah seorang sahabatnya. Dan orang yang mulia itu kini telah tiada.”
“O, ya? Siapakah dia? Siapa dia sebenarnya?”
“Dialah Muhammad Rasulullah SAW.”
“Muhammad? Benarkah demikian?”
Abu Bakar mengiyakan.
Pengemis Yahudi buta itupun akhirnya juga sesenggukan. “Oh, selama ini aku telah menghinanya. Memfitnahnya. Dan ia tidak pernah marah padaku sedikitpun. Ia mendatangiku setiap hari dengan membawa makanan. Ia menyuapiku dengan tangannya. Ia begitu mulia....”
Lelaki itu merasakan betapa beratnya sebuah kehilangan. Kehilangan orang yang setiap hari ia hinakan, yang justru telah membawakan makanan buatnya dan menyuapinya dengan segala kelembutannya. Setiap hari... hingga wafatnya.
Ia pun lalu bersyahadat di depan Abu Bakar.
posted by Bunda HaNa @ 7/25/2006 02:47:00 PM   0 comments
Kamis, Juli 20, 2006
KEADILAN... Islam cinta Keadilan Bro!!!!

PKSejahtera .... Bersih... Syar'i... Cerdas... Cekatan... dan Adil... coz Islam cinta KEADILAN... 





tafahum05@yahoo.com - mutiar4rrasyaqoh@yahoo.com
( belajar menjadi kader yang memahami tujuan tarbiyah yg sesungguhnya )

posted by Bunda HaNa @ 7/20/2006 12:46:00 PM   1 comments
Kerendahan Hati
Hatiku ...
jujurlah...
Kalau engkau tak sanggup menjadi cemara yang kokoh di puncak bukit ...
jadilah saja belukar yang teguh di tepi jurang...
Belukar itu senantiasa istiqomah dalam perjuangannya untuk hidup.
Ia belajar dari kesehariannya untuk mendewasakan batangnya,
batangnya yang menyanggahnya untuk tidak masuk ke dalam jurang...
Hatiku...ketahuilah!!!
Ternyata untuk menjadi belukar saja itu tidak mudah!!!
Belukar harus ikhlas agar ia tak iri pada cemara...
Belukar harus tawadhu agar ia tak sombong pada rumput...
Belukar tetap belukar sampai ia bisa berjumpa dengan Penciptanya...
Kalau engkau tak sanggup jadi belukar...
jadilah saja rumput,
tetapi rumput yang senantiasa memperkuat pinggiran jalan...
Kalau engkau tak sanggup menjadi langit...
jadilah saja bumi,
tetapi bumi yang setia dan ikhlas untuk dipijaki oleh setiap manusia.
Tidak semua insan sanggup berbuat seperti pengemis yang tawadhu'...
izzahnya tinggi walau orang lain merendahkannya...
karena ia mempunyai HATI sehingga dekat

From my beloved friend Rifa'
posted by Bunda HaNa @ 7/20/2006 12:16:00 PM   0 comments
Minggu, Juli 16, 2006
Muhasabah hari ini
kadang manusia lupa jika sebuah harapan harus kembali lagi kepada sang khaliq..
yah, itulah manusia..
belum lagi memahami islam secara kaffah dah ngaku mujahid islam..
belum lagi memahami makna bismillah aja dah dengan PD mengatakan dia memahami manusia dan mengaku berlevel tinggi..
bukan, bukan menyalahkan ato mengklaim seseorang tapi ini sebuah kesadaran atas apa yang sering aku rasakan...
ahh , ya robbul izzati...
bimbing hamba...
posted by Bunda HaNa @ 7/16/2006 07:32:00 PM   1 comments
about me
Foto Saya
Nama:
Lokasi: INA, NKRI, Indonesia

Anfa'u liddiin wa linnaas

MP3 Musik

Udah Lewat
Archives
ShoutBox
Name :
Web URL :
Message :
Banner

Mutiara

SAHABAT
...
Cahaya hati